Jawaban Bumi (Megabumi II)

Ya, Arjuna juga manusia yang bisa dihinggapi lelah dan letih. Tapi ingat, nama lainku ialah Wijaya, yaitu yang selalu memenangkan tiap pertempuran. Tak peduli bagaimana keadaan yang terjadi sekarang, sang Wijaya akan menang pada akhirnya ~ semoga bukan wujud kesombongan, tapi keyakinan.

Pohon rindang itu hanyalah tempatku beristirahat sejenak untuk memulihkan kekuatanku. Jangan pernah katakan aku ada “dibawah pohon itu untuk menghela nafas dan melihat langit luas yang pernah membuatku terbang tinggi disana“. Ingatlah juga bahwa aku berkuda Ciptawilaha, yang mampu membawaku terbang tinggi di angkasa sejauh apapun itu. Tanpanya pun, aku masih memiliki aji Sepiangin yang bisa membuat diriku berada dimanapun aku ingin.

Sekali lagi kutegaskan, langit maupun daratan tak jadi masalah bagiku. Jadi jangan pernah tanyakan lagi “apakah aku masih mau merasakan sensasi di atas langit? Ataukah aku sekarang lebih ingin melihat begitu indahnya daratan, sehingga buatku menjadikan angkasa sebagi kenangan yang takkan kau lalui lagi?

Yunda,sebagai penutup aku juga ingin mengingatkan. Bahwa nama lainku ialah Wibhastu, yaitu yang selalu bertarung dengan jujur. Dewa memang lebih tinggi dari manusia, tapi bukan berarti selalu benar dan menang melawan manusia. Pasopati yang kudapat dari Btara Guru, jangankan Dewa, raksasa sakti Niwatakawaca yang memporakporandakan kahyangan pun musnah karenanya.

Posted in asmaragama, wisyang

Pertanyaan Mega (Megabumi I)

Risang Arjuna.

Apakah kau masih terbang membumbung? Ataukah kau sudah menepi untuk melepas lelah letih mu itu?

Apakah kau berada dibawah pohom rindang itu untuk sekedar menghela nafas dan melihat langit luas yang pernah membuatmu terbang tinggi disana? Apakau kau masih mau merasakan sensasi di atas langit? Ataukah kau sekarang lebih ingin melihat begitu indahnya daratan, sehingga buatmu menjadikan angkasa sebagi kenangan yang takkan kau lalui lagi?

Posted in asmaragama, wisyang

Mega

Posted in asmaragama

Momentum

Itu hakmu, hak untuk mengumpat ketika datang lara. Itu hakmu, hak untuk tampilkan seringai ketika datang suka. Atas semua itu, kamu hanya menggenapi laku.

Laku yang telah digariskan Hyang Widi. Lara lapa Suka gembira silih  berganti. Dalam rasamu, dirimu hanya menunggu datangnya theg. Theg datang, pada momentumnya masing-masing.

Theg, dirimu punya istri. Theg, dirimu dianugrahi putri.

Bisa merasa itu lebih baik dari merasa bisa. Jangan sekali-kali merasa jadi sebab susahnya orang lain. Jangan sekali-kali merasa jadi sebab senangnya orang lain.

Momentum.

Posted in asmaragama

Titi Kala Mangsa

Misuha wektu ketiban ala. Mrengesa kala rumangsa bungah. Ing atase kabeh iku, awakmu mung anggenepi Laku. 

Laku ingkang pun digariske Gusti Pangeran. Lara lapa Seneng bungah lih ginanti. Ing rasamu, kabeh mung ngenteni theg. Theg rawuh ono titi kala mangsane dewe-dewe.

Theg, kagungan garwa. Theg, dipun paringi putra.

Bisa rumangsa iku linuwih, linuwih saking rumangsa bisa. Ojo pisan-pisan rumangsa dadi sebab laraning liyan. Ojo pisan-pisan rumangsa dadi sebab bungahing liyan.

Titi kala mangsa.

Posted in asmaragama

Theg

Theg

atau Tik

itulah letikan

bisa sinar

bisa bukan sinar

Theg

jagad dicipta

Theg

jagad musna

Theg

cinta bersemi, kasih disemai

Theg

ukara tresna diucap, rasa bungah dikecap

Theg

letikan wahyu keputusan

Theg

Posted in asmaragama

Selamat Bersua

Lantunan gita rindu, lewat suara, lewat tarikan tulisan kama.

Engkau yang telah sampai disini, membaca. Kuucapkan selamat bersua.

Sengaja tak kukirim warta, mengenai adanya Larik-larik Kama, yang kini tengah Dikau baca. Sebab ini tulisan jiwa, bukan sekedar raga. Ketika hati berteriak dan lepas dari dunia.

Pada akhirnya, wahai Dikau yang membaca, kuucapkan Selamat Bersua. Gerak-gerik jarimu hantarkan kau pada halaman muka. Namu lebih dari itu, paling tidak saat ini, kita memiliki nada batin yang serupa.

Posted in wisyang | Leave a comment